NTT |Gema Berita — Dunia pendidikan kembali dikejutkan oleh peristiwa memilukan. Seorang anak sekolah dasar (SD) di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) ditemukan meninggal dunia dan diduga mengakhiri hidupnya sendiri setelah mengalami tekanan berat karena tidak mampu membeli buku dan alat tulis sekolah, Kamis, 5 Februari 2026.
Informasi yang diperoleh menyebutkan, anak tersebut berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi sangat terbatas. Keterbatasan itu membuatnya kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sebagai pelajar, hingga memicu tekanan mental yang tidak tertangani.
Peristiwa ini menuai keprihatinan luas dari masyarakat, pemerhati pendidikan, hingga berbagai kalangan yang menilai kejadian tersebut sebagai peringatan serius bagi sistem pendidikan nasional, khususnya terkait akses dan pemerataan pendidikan di daerah tertinggal.
Sejumlah pihak menilai, pendidikan dasar seharusnya bebas dari beban biaya, termasuk perlengkapan belajar paling sederhana seperti buku dan pena. Ketika seorang anak harus menanggung rasa takut dan tertekan hanya karena persoalan ekonomi, maka hal itu dinilai sebagai kegagalan sistemik.
Kasus ini juga membuka kembali persoalan kemiskinan yang luput dari pendataan, di mana masih banyak keluarga rentan belum tersentuh bantuan sosial secara optimal. Dampaknya, anak-anak menjadi korban paling rentan, baik secara psikologis maupun sosial.
Tragedi ini diharapkan menjadi alarm keras bagi pemerintah dan seluruh pemangku kebijakan, agar kehadiran negara benar-benar dirasakan hingga ke lapisan paling bawah, terutama dalam menjamin hak anak atas pendidikan yang layak dan aman.
